Thursday, June 17, 2010
Seberapa lama akar itu tertanam?
Pada suatu hari seorang tua yang bijaksana berjalan melalui hutan bersama seorang muda yang terkenal tidak bertanggung jawab dan kepala batu. Orang tua itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil. "Cabutlah pohon itu," katanya. Segara pemuda itu membungkuk, dan hanya dengan dua jari saja ia dengan mudah dapat mencabut pohon itu.
Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. "Coba cabut pohon ini," katanya. Sekali lagi pemuda itu menuruti perimtahnya, namun kali ini dia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut akar pohon itu.
Akhirnya, mereka berhenti lagi di depan sebuah pohon yang sangat besar. "Sekarang, cabutlah pohon ini!" perintahnya lagi.
"Wah, itu tidak mungkin!" protes pemuda itu.
"Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini. Untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldoser."
"Engkau benar sekali," Jawab orang tua itu.
"Kebiasaan, entah baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu. Kebiasaan yang belum berakar dalam seperti pohon yang masih sangat kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah. Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar; untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat.
Kebiasaan yang sudah sangat lama telah berakar sangat dalam, sehingga orang itu sendiri tidak bisa lagi mencabutnya. Jagalah dirimu agar kebiasaan yang sedang engkau tanamkan adalah kebiasaan-kebiasaan baik."
Coba ambil waktu dan selidiki hati Anda. Adakah kebiasaan buruk Anda yang masih sangat kecil tertanam di hati Anda? Adakah ‘pohon’ buruk yang sudah agak besar?
Yang lebih penting, adakah ‘pohon’ besar yang sudah tertanam begitu lama? Jika ada, carilah penyelesaian masalah atas kebiasaan buruk Anda. Tanya orang lain yang menurut Anda bisa dipercaya dan mampu menyelesaikan masalah Anda.
Tidak hanya itu, berdoa kepada Tuhan merupakan obat bagi penyelesaian masalah Anda. Ubah sedikit demi sedikit perilaku yang buruk menjadi baik. Walau sesekali Anda gagal, terus ulangi. Dengan sikap ingin berubah yang total, Anda bisa membuang ‘akar’ jelek tersebut.
from: Facebook
Buah & Berlian
“Wanita yang bernilai tinggi itu ibarat buah yang ada di bagian paling atas pohon, dia menganggap dirinya jelek karena tidak seorang pun yang mau memetiknya. Padahal hanya pria ksatria yang bersedia memanjat pohon demi mendapatkan buah yang bernilai tinggi itu. Sementara pria-pria biasa hanya puas dengan buah-buah jelek di bawah.” Yah sebenarnya saya tidak ingat apa bunyi persisnya. Yang pasti pesan mendalam yang kutangkap adalah jadilah sabar! Seringkali banyak wanita yang merasa khawatir diri mereka terlalu jelek (jelek di sini bukan hanya tentang penampilan fisik) sehingga tidak memiliki pasangan hidup. Itu kan yang biasanya wanita rasakan apalagi kalau usianya sudah rawan di mana teman-temannya sudah banyak yang menikah. Makin khawatirlah wanita itu.
Sempat beberapa kali saya bagikan cerita ini teman-teman wanita saya terutama kalau kita sedang membicarakan “menunggu” pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kami memiliki harapan yang sama bahwa seorang pria yang tepat akan memetik kami di ketinggian meski itu berarti lebih repot dan menyusahkan baginya. Sampai suatu hari seorang teman laki-laki saya menghancurkan gambaran ini dengan komentarnya (yang tentunya bermaksud bercanda)!xD
kalau kelamaan nunggu bisa busuk tuh buahnya! grr..beraninya dia merusak cerita yang sudah begitu romantis itu…hahaha…saat itu saya memang tidak memiliki jawaban untuk komentarnya itu. Saya hanya bisa menanggapi dengan mengatakan “jangan dikritisi dong ceritanya!”
Tapi hari ini saya menemukan perumpamaan yang lebih bagus dari pohon apel tentang bernilainya wanita yang hatinya terpaut pada Tuhan. Yang rasa amannya bukan diperoleh dari cinta laki-laki tetapi dari kasih Allah. Wanita seperti yang digambarkan Amsal 31. Wanita seperti ini ibarat sebuah berlian asli, jernih, putih, tak bercacat, tanpa belerang, tanpa noda, murni dengan potongan yang sempurna. Jika kita hendak membeli berlian seperti ini, kita tidak akan menemukannya di ruang depan toko perhiasan. Si penjual akan membawa kita ke ruang dalam kemudian ia kan membuka lemari besi, memutar nomor kombinasi, dan mengeluarkan sebuah kotak. Setelah duduk dan menyalakan lampu, ia akan membuak kotak itu dan mengeluarkan sebuah nampan berlapis beludru hitam. Kemudian ia akan mengambil alat untuk memegang batu-batuan, dengan hati-hati memilih sebutir berlian dan mengangkatnya ke arah cahaya untuk diperlihatkan padamu. Ia hanya diperlihatkan padamu dan bukan orang-orang yang berlalu lalang depan toko karena kamulah yang benar-benar akan membeli berlian itu!
Kata-kata dalam buku yang kubaca memberi penjelasan tentang perumpamaan ini “kau (wanita) seperti berlian itu. Kau bukan untuk dilihat oleh setiap pria, hanya untuk ia yang memiliki tujuan yang serius terhadapmu. Tetapi, jika kau sendiri tidak mengetahui nilai dari hatimu, kau akan menjajakannya bersama perhiasan murahan di meja depan yang mudah dihampiri. Hatimu akan dipenuhi sidik jarim dan kau akan bertanya-tanya mengapa tidak ada yang membelinya.”
Setidaknya maksud kedua perumpamaan itu sama yaitu tentang betapa berharganya wanita yang tahu nilai hatinya sehingga memang mereka terlihat “tidak laku” tetapi sebenarnya hanya pria yang bersungguh-sungguh terhadap dirinyalah yang akan mendapatkan hati wanita itu. Meskipun intinya sama, saya lebih menyukai perumpamaan berlian karena setidaknya teman saya tidak bisa lagi berkomentar “buahnya bisa busuk kalau kelamaan tidak dipetik.” xD
Don’t you worry about your best future partner!
Let Him set the right time for both of you! =D
Written esp. for lady in waiting =) or even men in seeking..xD
referensi : Hammond Michelle McKinney. 2000. If Men Are Like Buses, Then How Do I Catch One?. California: Multnomah Publishers, Inc.
from: facebook
Monday, June 14, 2010
1 detik untuk membaca
from . http://white-aqua.blogspot .com/2010/06/1-detik-untuk -membaca.html
Apa yang kita lakukan hari ini, mungkin hampir tidak ada bedanya dengan kemarin. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin adalah sebuah rutinitas. Akan tetapi, ada satu hal yang setiap hari berbeda, yaitu pengalaman dan usia. Sadar atau tidak sadar, waktu terus berjalan. Sedetik yang telah lewat tidak dapat kembali. Jikalau waktu dapat dijual, tidak dapat disangkal, orang akan membeli waktu sebanyak-banyaknya.
Ada pepatah, waktu satu detik bagi pembalap adalah waktu yang sangat menentukan, apakah ia menjadi juara pertama atau kedua atau mungkin tidak juara.
Waktu satu detik bagi dokter yang sedang melakukan operasi adalah satu detik dimana nyawa pasien ditentukan.
Waktu satu detik bagi orang yang sakit keras adalah sebuah anugrah bahwa ia dapat melewati detik-detik sebelumnya. Satu detik lebih lama, berarti satu detik ia dapat merasakan kebersamaan dengan orang-orang terdekatnya di dunia fana ini.
Seorang teman pernah berkata “kau semakin dekat dengan kematianmu. Selamat ulang tahun”… Jika dibaca sekilas, kata-kata tersebut seolah-olah mengutuk kita agar cepat mati, tetapi ternyata tidak. Kita berulang tahun berarti kita bertambah tua. Bertambah banyak pengalaman yang telah kita dapat (meski belum tentu menjadikan kita bijaksana). Bertambah tua setahun menjadikan kita telah melewati satu tahun. Apa yang telah kau lakukan selama tahun yang telah berlalu tersebut dan mengapa kau melakukannya dapat menjadi sebuah refleksi pribadi agar tahun yang kau jalani menjadi lebih baik.
Menjadi lebih tua diharapkan mendapatkan pengalaman yang banyak. Lebih tua diharapkan menjadi lebih bijaksana. Lebih tua diharapkan dapat menentukan sebuah pilihan yang benar. Sebuah pilihan yang baik adalah sebuah pilihan yang benar bukan yang enak (Mario Teguh).
Mungkin ketika kau membaca tulisan ini memakan waktu beberapa detik, bahkan menit, tetapi semoga apa yang kau baca berguna hingga melebihi waktu yang kau gunakan untuk membaca tulisan ini.
Apa yang kita lakukan hari ini, mungkin hampir tidak ada bedanya dengan kemarin. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin adalah sebuah rutinitas. Akan tetapi, ada satu hal yang setiap hari berbeda, yaitu pengalaman dan usia. Sadar atau tidak sadar, waktu terus berjalan. Sedetik yang telah lewat tidak dapat kembali. Jikalau waktu dapat dijual, tidak dapat disangkal, orang akan membeli waktu sebanyak-banyaknya.
Ada pepatah, waktu satu detik bagi pembalap adalah waktu yang sangat menentukan, apakah ia menjadi juara pertama atau kedua atau mungkin tidak juara.
Waktu satu detik bagi dokter yang sedang melakukan operasi adalah satu detik dimana nyawa pasien ditentukan.
Waktu satu detik bagi orang yang sakit keras adalah sebuah anugrah bahwa ia dapat melewati detik-detik sebelumnya. Satu detik lebih lama, berarti satu detik ia dapat merasakan kebersamaan dengan orang-orang terdekatnya di dunia fana ini.
Seorang teman pernah berkata “kau semakin dekat dengan kematianmu. Selamat ulang tahun”… Jika dibaca sekilas, kata-kata tersebut seolah-olah mengutuk kita agar cepat mati, tetapi ternyata tidak. Kita berulang tahun berarti kita bertambah tua. Bertambah banyak pengalaman yang telah kita dapat (meski belum tentu menjadikan kita bijaksana). Bertambah tua setahun menjadikan kita telah melewati satu tahun. Apa yang telah kau lakukan selama tahun yang telah berlalu tersebut dan mengapa kau melakukannya dapat menjadi sebuah refleksi pribadi agar tahun yang kau jalani menjadi lebih baik.
Menjadi lebih tua diharapkan mendapatkan pengalaman yang banyak. Lebih tua diharapkan menjadi lebih bijaksana. Lebih tua diharapkan dapat menentukan sebuah pilihan yang benar. Sebuah pilihan yang baik adalah sebuah pilihan yang benar bukan yang enak (Mario Teguh).
Mungkin ketika kau membaca tulisan ini memakan waktu beberapa detik, bahkan menit, tetapi semoga apa yang kau baca berguna hingga melebihi waktu yang kau gunakan untuk membaca tulisan ini.
Friday, June 11, 2010
Apa Kabar?
Pernahkah teman-teman merasa sedih setelah ditanya “apa kabar” atau “bagaimana keadaanmu” dan pertanyaan sejenisnya? Baru-baru ini aku mengalaminya. Sedih bukan karena sedang mengalami masalah sehingga ketika ditanya aku jadi teringat masalahku (saat ditanya aku malah tidak sedang mengalami masalah), tetapi karena respon si penanya. Memang apa yang dilakukannya? Simpel dan seringkali tanpa sadar juga kita lakukan. Tidak merespon!
Mungkin teman-teman bahkan aku sendiri pernah atau malah sering bertemu orang, sms, telp, chatting, email dan menanyakan kabar mereka. Namun, apakah kita sungguh-sungguh dengan pertanyaan itu? Apakah kita sungguh-sungguh peduli dengan keadaannya sehingga kita bertanya “apa kabar”? atau kita hanya sedang berbasa-basi saja untuk memulai pembicaraan atau untuk menyapa seseorang? Hal ini terutama lebih mudah terjadi kalau orang yang kita tanyakan tidak ada di hadapan kita meski tidak menutup kemungkinan kita juga hanya berbasa-basi dengan orang yang kita temui secara langsung.
Kita terlalu terbiasa mengucapkan “apa kabar?” saat memulai komunikasi dengan orang lain sehingga kita lupa makna pertanyaan itu. Ketika merasa sedih itulah, aku bertanya pada diriku sendiri, “Andriani, berapa kali kamu bertanya apa kabar pada temanmu dan kamu tidak menunggu dia selesai berbicara untuk memotongnya? Atau berapa kali kamu bahkan tidak perlu repot-repot untuk mengorek lebih jauh keadaan sahabatmu ketika dia bilang “baik” padahal mungkin aku tahu dia tidak sedang baik-baik saja?”
Aku juga suka menjawab “kabarku baik, sehat dan jawaban singkat sejenisnya.” Memang tidak salah kalau orang akan berespon ini untuk pertama kalinya. Mengapa? Pertama adalah faktor siapa penanyanya. Jika ia adalah orang yang baru kita kenal beberapa hari lalu (baca:orang asing bagi kita) mungkin wajar saja kita mencoba menjawab sesingkat-singkatnya karena mungkin kita belum bisa terbuka. Tetapi jika ia adalah teman kita bahkan sahabat kita apakah jawaban baik saja cukup? Kedua, kita telah begitu terbiasa mengharapkan jawaban “baik” untuk pertanyaan “apa kabar” bahkan kalau perlu tidak usah menunggu jawaban orangnya. Intinya kita merasa orang tidak akan repot-repot peduli atau bahkan mencoba mengerti.
Maukah kita belajar mengubah sapaan pembuka yang kering dengan keingintahuan yang tulus? Alih-alih berhenti ketika orang yang kita ingin perhatikan menjawab “baik”, kita bertanya “sungguh, bagaimanakah kabarmu?” atau misalnya “apakah kamu mau cerita bagaimana perasaanmu hari ini?” Jangan pergi atau mengalihkan pembicaraan sebelum mereka menjawab pertanyaan itu seakan-akan kita tidak bersunguh-sungguh ingin tahu. Setelah mereka menjawab, kita boleh bertanya lebih jauh jika ada yang tidak jelas atau berikan tanda bahwa kita sedang mendengarkan (cth: mengangguk, respon singkat “oh, emm, begitu ya”, atau paraphrase). Sebuah keingintahuan yang tulus dan kesediaan untuk mendengar jawaban mereka akan menciptakan keterbukaan dalam komunikasi kita.
Thanks God for reminding me again about this small but important attitude! =)
PS: khusus untuk teman-temanku sesama PKK, tulisan ini mengingatkanku untuk sungguh-sungguh mau peduli kepada AKK ketika bertanya “apa kabarmu,…?”
Terinspirasi dari pengalaman hidup xp dan buku 101 Ide Jitu Membangun Kekompakan dalam Kelompok Kecil karangan Thom Corrigan.
from: facebook
Monyet dan Kacangnya
Dari sebuah artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik.
Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.
Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya.
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya.
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan.
Sebenarnya kita akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya bersih...:)
from: facebook
Subscribe to:
Posts (Atom)
